Saturday, July 18, 2015

Agenda Terbesar (Yang Tertinggal)

Semua orang kini bicara syariah. Yang dimaksud tentu ekonomi dan perbankan syariah. Tadinya ekonomi dan perbankan syariah merupakan makhluk aneh dan langka. Di kalangan akademis pun demikian, ia dianggap "esoteris" konsep yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Ambruknya perekonomian Amerika akibat krisis keuangan pada tahun 2008 memberikan hikmah tersendiri. Kalau dulu pada waktu krisis 1998 ekonomi syariah menjadi alternatif tingkat nasional, kini ekonomi dan perbankan syariah menjadi harapan bagi ekonomi tingkat dunia.
Sekarang, semua orang berbicara ekonomi dan perbankan syariah. Saking semangatnya, seringkali terkesan bahwa mereka paling tahu tentang subyek baru itu. Padahal mereka ibarat "anak kemaren sore" yang disebut Betrand Russel sebagai "yang menemukan kerang di tepi pantai, sangat bersuka cita dan menganggapnya satu-satunya permata, padahal masih ada jutaan kerang lebih indah di tengah lautan." Di lain sisi, terkadang para pembicara hanya mengulang apa yang ada. Ada juga yang kerjanya hanya memuji sistem dan sibuk mencari kesalahan di sistem lain. Padahal dulu, di era 1990-an, semua orang berlomba untuk memberi sumbangsih kepada sistem ini.

Ekonomi syariah di Indonesia sudah mendekati 2 dekade sejak Munas Alim Ulama tentang Bunga Bank di Cisarua pada tahun 1990. Telah banyak yang dicapai selama kurun waktu itu. Dari sisi kelembagaan, hampir semua lembaga keuangan yang ada di konvensional memiliki mirror institution-nya. Ada bank perbankan, asuransi, reksadana, lembaga pembiayaan dan sebagainya. Derap institusi ini pun diiringi dengan pencapaian dalam angka. Yang tercepat adalah perbankan syariah. Meskipun hanya 2 % dari porsi perbankan nasional, tapi nilai nominalnya sudah mencapai Rp. 45 trilyun.

Dalam perbankan syariah Indonesia kini dianggap memiliki mazhab tersendiri. Jika sebelumnya orang mengenal "mazhab konservatif" ala Timur Tengah dan "mazhab liberal" ala Malaysia, Indonesia tidak mengikut kepada salah satunya. Sejak tahun 1997 perbankan syariah menyusun sendiri produk layanannya dengan mencari sendiri dari sumber aslinya. Proses ini harus dilakukan mengingat sistem hukum dan ekonomi di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan kedua "mazhab" perbankan syariah itu

Di luar semua kemajuan ini, ada agenda besar yang tertinggal dan bahkan terlupakan. Perbankan syariah masih menggunakan bunga sebagai referensi keuntungan. Sehingga apabila nasabah memperoleh pembiayaan ia akan mudah menebak bahwa tingkat keuntungan yang diinginkan bank pastilah merujuk ke tingkat sukubunga pasar. Bisa jadi sama atau lebih tinggi.  Mengapa? Karena sampai saat ini belum ada apa yang disebut Profit reference, profit index atau profit benchmarking buat bank syariah.

Meskipun lembaga yang merupakan asosiasi perbankan internasional seperti AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution) menjustifikasi praktek ini melalui dewan syariahnya, masih ada

- mencari rata-rata industri
-Pasar uang antar bank syariah
- rata-rata deposito 12 bulan dari seluruh bank syariah
- do it, revise later



No comments:

Post a Comment